ANTARA ADA DAN TIADA (sebuah kehidupan)

Air dan Manusia

Hari ini, masih sama seperti hari biasa tak ada yang istimewa dan juga tak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tidak ada pekerjaan yang harus pressure banyak tenaga dan pikiran. Waktu terlalui begitu saja. Akankah waktu akan berganti begitu saja…. terus mengalir seperti air sungai yang terus mengalir mencari dimana tempat yang lebih rendah …

Dan tidakkah lebih indah tatkala air mengalir ke sebuah tempat yang curam seperti Air terjun Niagara di Amerika Utara misalnya, atau Air terjun Victoria yang berada di sungai Zambezi, Air terjun Rhine di Eropa yang berada di Swiss, Air terjun Jog di India atau Air terjun Jurong yang berada di Singapura.

Berawal dari air mengalir ini, aku mulai terpaku dan termenung soal air. Air bisa memberikan kesejukan, keindahan, tapi tidak sedikit air dalam jumlah banyak menjadi sebuah wabah yaitu banjir. Terbersit banyak pertanyaan tentang air dan alam. Kenapa dengan air kenapa dengan alam? Mengapa manusia ada dan juga mengapa air ada? Apa hubungannya manusia dengan air dan juga apa hubungannya manusia dengan alam?

Belajar dari alam

Alam sebenarnya memberikan sebuah pelajaran, secara falsafi alam memberikan banyak inspirasi para pemikir-pemikir terdahulu. Berawal dari konsep “ada” dan “tiada”. Manusia ada karena wujud yang melekat pada dirinya disamping itu ada sebuah anggapan suatu yang “ada” tidak terlepas dari keadaan “tiada”. Dalam proses pencarian ke”tiada”an inilah banyak tokoh pemikir filsafat yang mencoba mengungkapkan banyak teorinya tentang asal mula kehidupan setelah masa kepercayaan mitos. Manusia tidak mungkin dengan sendirinya “ada” tanpa sebab dan musababnya (ada berasal dari ketiadaanny). Sebuah pendekatan dalam proses pencarian tidak lain adalah apa saja yang mempunyai hubungan wujud “ada” dan tidak lain manusia selalu bersinggungan, bersentuhan dengan alam secara kasaf mata. Alam adalah contoh konkrit sample yang bisa “dicerna” oleh indera manusia.

Seperti Thales (sekitar tahun 624 SM) seorang filsuf pertama yang mengajukan teori single material substratum utk alam semesta. Ia percaya, jika segala sesuatu di dunia ini disusun berdasarkan satu substansi saja, yaitu cairan atau air. Ada kemungkinan, hal ini didasarkan pada pengalamannya yang melihat perubahan wujud air, air tidak dapat hilang, tetapi hanya berubah (cair, padat, gas). Ia juga menyatakan jika seluruh organisme di semesta, terdiri dari banyak kandungan air. Pandangan Thales yg menganggap air sebagai substansi esensial, dan melakukan simplifikasi terhadap paradigma-paradigma yg ada pada saat itu mengenai dunia (terutama pandangan mengenai Dewa) itulah yang disebut sebagai reduksionisme –melakukan simplifikasi-. Sumbangan terpentingnya dalam filsafat adalah pemikirannya mengenai akal, rasio untuk mengalahkan mitos/pandangan dewa dalam menjelaskan fenomena alam.

Tak ada salahnya berfilsafat dengan konsepnya air (bukan berarti sepaham dengan teorinya Thales bahwa awal kehidupan dunia adalah berasal dari air), mempunyai unsur satu hydrogen dan satu oksigen dengan sifat cairnya bisa menyatu dan terpisah dengan benda lain, tak terbatas ruang dan waktu, air tidak mati dimanapun tempatnya air tetap ada dan tidak mengisolirkan dirinya untuk menjaga jati dirinya hingga seorang Filosof Thales beranggapan bahwasannya air adalah awalmula kehidupan dunia.

Air mengalir mencari tempat yang rendah, disisi lain air mempunyai daya kapilaritas untuk meresap pada sebuah benda; kayu, kertas, dlsb. Air bertemu dengan api, mampu memadamkan api dan kobarannya, bertemu dengan tanah menjadikan kesuburannya, air bertemu dengan angin menjadikan kesejukan udara yang kering, air bertemu dengan kehidupan akan menghidupinya. Air mampu menyatu ke segala macam ruang dan tak terbatas waktu, disamping itu air menyeimbangkan hidup, tidak menekan berlebihan di sebuah sisi, atau meringankan di sisi yang lain. Air merata di semua permukaan, demikian hukum Pascal Tekanan beban terhadap air, akan terbagi rata ke seluruh bagiannya, tidak ada yg berat sebelah.

Air akan menjadi indah dengan wujudnya yang bisa menyatu dan memisahkan diri dengan benda lain, seperti halnya air dalam jumlah besar di lautan dengan gulungan ombak di tepi pantai, air mancur, air terjun.

Dilihat dari wujudnya manusia dan air sama-sama “ada”. Manusia tidak bisa menciptakan air, kemudian bisakah air menjadi manusia? atau air yang menciptakan manusia? Dilihat dari wujudnya manusia dan air sama-sama ada kemudian siapa yang “tiada”?

Atau barangkali manusia dan air sebenarnya “tiada” dan ada kehidupan lain yang lebih besar yang membuat kita “ada”.

(Penulis: Ebit Handoko)